Jumat, 31 Maret 2017

Tugas Softskill Bahasa Inggris 2 #



Nama : Ryan Nourvien Prawiranata
NPM : 18213156
Kelas : 4EA14


Ingenious or lazy? Cat owner finds way to get puss back indoors after escape - and he never even left his home
The beautiful white fluffy moggy was happy to be saved and kept calm during the rescue mission and didn't try and make a break for it in basket.
A clever owner came up with a way to rescue his pet cat which had escaped from a ground floor flat, and he didn't even have to leave his home. With the help of a wicker basket and a rope he managed to convince the puss to jump in so he could pull her up.
The cat had jumped out from the ground floor flat and was enjoying her new found freedom. Her owner had already thrown some food down to the moggy, which it lapped up but made no attempt to try to get home.
It was only when the basket was lowered that the beautiful white fluffy pet decided to jump in.



The cat took a while to get on board

The cat is pulled back up to the ground floor flat
She also sat very still during the journey back up and didn't once attempt to make a break for it.


He pulls the basket and cat inside
The rescue operation, which some are calling lazy as the owner could have gone down and collected the cat, took place in the Russian city of Yaroslavl.
British English
American English
Bahasa Indonesia
Moggy
Cat
Kucing
Ground Floor
First Floor
Lantai Dasar
Flat
Apartment
Apartemen

Minggu, 26 Juni 2016

Tanggapan: Film Nasional Versus Penonton



Kajian :: Penulis: Catherine Keng
Mantan importir dan pengedar film impor, A Rahim Latif, yakin bahwa film nasional mendapatkan perlakuan yang diskriminatif dan tidak etis dari sekelompok bioskop di Tanah Air. Benarkah terjadi perlakuan diskriminatif tersebut? Tulisan ini merupakan paparan fakta dan analisis untuk menanggapi artikel ”Film Nasional Versus Bioskop” (Kompas, 2 Agustus 2015, hlm 27).
”Dosa-dosa” bioskop
Rahim memulai tulisannya dengan daftar ”dosa-dosa” bioskop melalui kutipan pernyataan yang konon menurut Garin Nugroho bahwa film nasional yang masih ada penontonnya diturunkan, sementara film impor yang sudah tidak ada penontonnya terus diputar di bioskop. Jika yang dimaksud Rahim ”sekelompok bioskop” itu adalah Cinema 21, penulis dapat memastikan bahwa data dan informasi tersebut keliru.
Selama ini Cinema 21 selalu terbuka terhadap produser film nasional. Produser dapat melihat langsung hasil perolehan penonton pada hari-hari sebelum filmnya diturunkan. Artinya, perolehan semua film yang main di bioskop tersebut dapat dilihat oleh produser untuk memastikan bahwa filmnya layak diganti/diturunkan. Yang sering kali justru menjadi isu klasik adalah produser meminta filmnya tetap dipertahankan putar di bioskop walaupun perolehan penontonnya sudah sangat minim. Sebaiknya Rahim ataupun Garin dapat menunjukkan secara spesifik kepada publik kasus yang dimaksud dalam tuduhannya tersebut bilamana benar terjadi.
Pernyataan Direktur Utama Cinema 21 untuk mendukung film nasional juga diragukan oleh Rahim berdasarkan alasan bahwa bioskop Blok M Plaza 21 yang menurut Rahim memiliki potensi besar untuk pasar film nasional justru sekarang digunakan untuk memutar film impor saja. Pernyataan tersebut dapat dimaklumi mengingat keterbatasan pengetahuan dan data yang dimiliki Rahim untuk mendasari tuduhannya.
Memang benar bahwa 10 tahun lalu bioskop Blok M Plaza menjadi salah satu lokasi yang potensial untuk film nasional. Namun, sejak Cinema 21 membuka bioskop Blok M Square 21 yang berlokasi di seberang Blok M Plaza, secara alamiah penonton film nasional bergeser ke bioskop Blok M Square yang lebih baru. Akibatnya, bioskop Blok M Plaza bukan lagi menjadi pilihan penonton film nasional. Hal ini terbukti dari perbandingan angka perolehan penonton setiap bioskop untuk dua film nasional terlaris saat ini, Blok M Plaza dan Blok M Square berturut-turut merepresentasikan 0,43 persen dan 1,07 persen untuk film Comic 8; lalu 0,42 persen dan 1,15 persen untuk Surga Yang Tak Dirindukan. Meskipun demikian, Blok M Plaza tetap memutar film nasional, bukan film impor saja seperti tuduhan Rahim.
Rahim juga mengatakan bahwa menurunkan film impor non major company memang gampang, tetapi tidak untuk film major company karena ada persentase tertentu yang ditetapkan oleh sang major company.
Faktanya, kerja sama pemutaran film milik produser yang disebut oleh Rahim sebagai major company tidak pernah menetapkan batas persentase tertentu. Semuanya diserahkan kepada bioskop sebagai ekshibitor karena pada dasarnya sistem bagi hasil film akan selalu menjamin perlakuan yang fair berdasarkan sinergi kepentingan antara pemilik film dan ekshibitor. Secara fair, bioskop akan selalu memberikan kesempatan putar kepada film yang diminati penonton karena minat penonton itulah yang menjadi darah dalam industri perfilman. Masalah menjadi berbeda ketika Rahim mengimplikasikan perlakuan fair sebagai pemihakan secara membabi buta kepada semua film nasional.
Yang tidak diketahui Rahim adalah fakta bahwa Cinema 21 juga melakukan seleksi atas film impor dengan menolak pemutaran judul-judul tertentu dengan pertimbangan demi keseimbangan dan kesempatan bagi film nasional.
Menurut Rahim, selama bulan puasa lalu bioskop tidak memutar film nasional, padahal biasanya tiap bulan memutar 8-10 judul film nasional di luar bulan puasa. Tampaknya perlakuan bioskop yang sangat ”tidak fair” terhadap film nasional selama bulan puasa tertangkap tangan oleh Rahim. Rahim tidak tahu bahwa justru para produser film nasional yang dengan sengaja menghindari rilis film di bulan puasa karena menganggap minat menonton pada bulan tersebut sangat rendah.
Dalam tulisannya, Rahim menyatakan, saya tidak jujur ketika mengatakan bahwa jumlah film impor yang lebih besar daripada film nasional belum tentu berkesempatan diputar di bioskop di Indonesia. Menurut dia, film yang tidak diputar tersebut adalah film-film kawinan (film yang dibeli dalam bentuk paket) yang disebutnya sebagai paid but unplayed. Namun, bukankah penjelasan tersebut justru menguatkan pernyataan saya bahwa tidak semua film impor yang masuk mendapat kesempatan diputar di bioskop? Sungguh suatu penilaian yang tidak jujur dari Rahim untuk saya.
Peran penonton
Telah sekian lama perfilman nasional selalu disibukkan dengan jargon ”Memajukan Film Nasional”, ”Menjadikan Film Nasional sebagai Tuan Rumah di Negeri Sendiri”, dan lain sebagainya. Semua jargon disampaikan dengan permintaan dan tuntutan agar pemerintah dan segenap stakeholder perfilman, yaitu produser, bioskop, artis, pekerja film, dan jasa teknik film, mendukung film nasional. Masyarakat penonton sebagai darah yang menghidupi industri perfilman sendiri tidak pernah dipandang sebagai bagian dari stakeholder perfilman. Seakan penonton adalah masyarakat yang tidak berdaya, yang tidak bisa memilih film yang akan ditonton sehingga stakeholder perfilman yang akan memilih dan memutuskan untuk mereka.
Sungguh sangat menyedihkan apabila pola pendekatan yang otoritarian tersebut tetap dipertahankan pada era keterbukaan seperti saat ini. Kita sudah melihat bagaimana kebijakan perfilman yang diambil selama ini, termasuk terbitnya Undang-Undang Perfilman Nomor 33 Tahun 2009, semata-mata berorientasi hanya kepada pelaku usaha perfilman. Bagaimana memproteksi produksi film nasional, jasa teknik dalam negeri, dan lain sebagainya. Bahkan penurunan rata-rata penonton film nasional belakangan ini pun ditanggapi dengan tudingan kurangnya layar bioskop dan kurangnya kesempatan yang diberikan bioskop kepada film nasional.
Padahal, tahun 2008 ketika kebangkitan film nasional mencapai puncaknya dengan menguasai lebih dari 55 persen pangsa penonton secara nasional, jumlah layar bioskop masih berkisar 55 persen dari jumlah yang ada sekarang dan kebijakan peredaran film nasional tidak berubah sama sekali.
Jadi, apa yang membedakan kondisi pada saat itu dengan kondisi saat ini? Jawabannya adalah ”pilihan penonton”! Dalam bahasa politik, elektabilitas film nasional pada tahun 2008 sangat baik dan mengalahkan elektabilitas film impor, hanya itu jawabnya. Kalau tahun-tahun terakhir ini elektabilitas film nasional merosot tajam, siapa yang harus disalahkan? Bioskop atau tata edar film? Apa pun yang dilakukan bioskop dan apa pun yang diatur dalam tata edar film tak akan menggerakkan penonton ke bioskop selama kebijakan tersebut tidak memihak kepada penonton. Dalam hal ini, posisi Cinema 21 tegas memihak kepada masyarakat penonton karena kami ada untuk melayani penonton.
Pertama kali dimuat di Kompas, Minggu 9 Agustus 2015, hlm 27.
Sumber:

Jumat, 29 April 2016

Softskills Bahasa Indonesia 2 # (deadline 29 April 24.00 WIB)

 
Nama               : Ryan Nourvien Prawiranata
NPM               : 18213156
Kelas               : 3EA14
Mata Kuliah    : Bahasa Indonesia 2 #

 Pengertian Data
Data adalah sesuatu yang belum mempunyai arti bagi penerimanya dan masih memerlukan adanya suatu pengolahan. Data bisa berwujud suatu keadaan, gambar, suara, huruf, angka, matematika, bahasa ataupun simbol-simbol lainnya yang bisa kita gunakan sebagai bahan untuk melihat lingkungan, obyek, kejadian ataupun suatu konsep.
Cara Pengumpulan Data
1 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Tujuan yang diungkapkan dalam bentuk hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian.metode pengumpulan data bisa dilakukan dengan cara :
a.       Wawancara
Menurut Prabowo (1996) wawancara adalah metode pengmbilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden, caranya adalah dengan bercakap-cakap secara tatap muka.Pada penelitian ini wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara.
Menurut Patton dalam proses wawancara dengan menggunakan pedoman umum wawancara ini, interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum, serta mencantumkan isu-isu yang harus diliput tampa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tidak terbentuk pertanyaan yangeksplisit. Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer mengenai aspek-aspek apa yang harus dibahas, juga menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat Tanya, sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks actual saat wawancara berlangsung (Patton dalam poerwandari, 1998).
b.OBSERVASI
Disamping wawancara, penelitian ini juga melakukan metode observasi. Menurut Nawawi & Martini (1991) observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistimatik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala atau gejala-gejala dalam objek penelitian. Dalam penelitian ini observasi dibutuhkan untuk dapat memehami proses terjadinya wawancara dan hasil wawancara dapat dipahami dalam konteksnya. Observasi yang akan dilakukan adalah observasi terhadap subjek, perilaku subjek selama wawancara, interaksi subjek dengan peneliti dan hal-hal yang dianggap relevan sehingga dapat memberikan data tambahan terhadap hasil wawancara.
Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) tujuan observasi adalah mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian di lihat dari perpektif mereka yang terlihat dalam kejadian yang diamati tersebut.
MACAM-MACAM OBSERVASI
a.    Observasi Partisipatif
Peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang diucapkan dan berpartisipasi dalam aktivitas yang diteliti
b. Observasi Terus Terang atau Tersamar
Peneliti berterus terang kepada narasumber bahwa ia sedang melakukan penelitian.
c. Observasi tak Berstruktur
Dilakukan dengan tidak Berstruktur karena fokus penelitian belum jelas
C.Angket atau kuesioner (questionnaire)
Angket atau kuesioner merupakan suatu teknik pengumpulan data secara tidak langsung (peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden). Instrumen atau alat pengumpulan datanya juga disebut angket berisi sejumlah pertnyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau direspon oleh responden. Responden mempunyai kebiasaan untuk memberikan jawaban atau respon sesuai dengan presepsinya.
Kuesioner merupakan metode penelitian yang harus dijawab responden untuk menyatakan pandangannya terhadap suatu persoalan. Sebaiknya pertanyaan dibuat dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti dan kalimat-kalimat pendek dengan maksud yang jelas. Penggunaan kuesioner sebagai metode pengumpulan data terdapat beberapa keuntungan, diantaranya adalah pertanyaan yang akan diajukan pada responden dapat distandarkan, responden dapat menjawab kuesioner pada waktu luangnya, pertanyaan yang diajukan dapat dipikirkan terlebih dahulu sehingga jawabannya dapat dipercaya dibandingkan dengan jawaban secara lisan, serta pertanyaan yang diajukan akan lebih tepat dan seragam.
MACAM-MACAM KUISIONER
1.    Kuesioner tertutup
Setiap pertanyaan telah disertai sejumlah pilihan jawaban. Responden hanya memilih jawaban yang paling sesuai.
2. Kuesioner terbuka
    Dimana tidak terdapat pilihan jawaban sehingga responden haru memformulasikan jawabannya sendiri.
3. Kuesioner kombinasi terbuka dan tertutup
    Dimana pertanyaan tertutup kemudian disusul dengan pertanyaan terbuka.
4. Kuesioner semi terbuka
     Pertanyaan yang jawabannya telah tersusun rapi, tetapi masih ada kemungkinan tambahan jawaban.
JENIS-JENIS DATA
Jenis Data Menurut Cara Memperolehnya :
-        Data Primer
Data primer adalah secara langsung diambil dari objek / obyek penelitian oleh peneliti perorangan maupun organisasi. Contoh : Mewawancarai langsung penonton bioskop 21 untuk meneliti preferensi konsumen bioskop.
-       Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang didapat tidak secara langsung dari objek penelitian. Peneliti mendapatkan data yang sudah jadi yang dikumpulkan oleh pihak lain dengan berbagai cara atau metode baik secara komersial maupun non komersial. Contohnya adalah pada peneliti yang menggunakan data statistik hasil riset dari surat kabar atau majalah.
Macam-Macam Data Berdasarkan Sumber Data :
Data Internal Data internal adalah data yang menggambarkan situasi dan kondisi pada suatu organisasi secara internal. Misal : data keuangan, data pegawai, data produksi, dsb.
-       Data Eksternal
Data eksternal adalah data yang menggambarkan situasi serta kondisi yang ada di luar organisasi. Contohnya adalah data jumlah penggunaan suatu produk pada konsumen, tingkat preferensi pelanggan, persebaran penduduk, dan lain sebagainya.
 ( Jenis-jenis Data Menurut Waktu Pengumpulannya ) :
-       Data Cross Section
Data cross-section adalah data yang menunjukkan titik waktu tertentu. Contohnya laporan keuangan per 31 desember 2006, data pelanggan PT. Angin Ribut bulan mei 2004, dan lain sebagainya.
-       Data Time Series / Berkala
Data berkala adalah data yang datanya menggambarkan sesuatu dari waktu ke waktu atau periode secara historis. Contoh data time series adalah data perkembangan nilai tukar dollar amerika terhadap euro eropa dari tahun 2004 sampai 2006, jumlah pengikut jamaah nurdin m. top dan doktor azahari dari bulan ke bulan, dll.
 ( Data dengan Variabel bebas dan variabel terikat ) :
Variabel bebas adalah data unit atau ukuran yang diubah dalam suatu pengamatan. Dalam hubungan sebab-akibat, variable terikat berperan sebagai sebab sementara variable bebas adalah akibat.
Data dengan variabel terikat adalah data unit atau ukuran yang berubah sesuai dengan berubahnya variable lain. Variabel terikat menjadi hal yang diperhatikan dalam suatu pengamatan.
-       Data Berkala
Data berkala adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu untuk menggambarkan suatu perkembangan atau kecenderungan keadaan/peristiwa/kegiatan. Biasanya jarak dari waktu ke waktu sama. Data berkala disebut juga time series data. Dengan analisis data berkala kita dapat mengetahui perkembangan satu atau beberapa keadaan serta hubungan atau pengaruhnya terhadap keadaan lain.
PENGERTIAN SAMPLE
Sampel adalah bagian dari populasi yang diharapkan mampu mewakili populasi dalam penelitian
SYARAT SAMPLE YANG BAIK
Dalam penyusunan sampel perlu disusun kerangka sampling yaitu daftar dari semua unsur sampling dalam populasi sampling, dengan syarat:
a. Harus meliputi seluruh unsur sampel
b. Tidak ada unsur sampel yang dihitung dua kali
c. Harus up to date
d. Batas-batasnya harus jelas
e. Harus dapat dilacak dilapangan
Menurut Teken (dalam Masri Singarimbun dan Sofyan Efendi) Ciri-ciri sample yang ideal adalah:
a. dapat menghasilkan gambaran yang dipercaya dari seluruh populasi yang diteliti
b. Dapat menentukan presisi (precision) dari hasil penelitian dengan menentukan penyimpangan baku (standar) dari taksiran yang diperoleh
c. Sederhana, sehingga mudah dilaksanakan
d. Dapat memberikan keterangan sebanyak mungkin dengan biaya yang rendah
CARA / TEKNIK PENGUMPULAN SAMPLE
Ada beberapa teknik dalam pengambilan sampel, namun secara garis besar dapat dibagi menjadi dua:
a. Probability Sampling atau Random Sampling
1) Simple random sampling, pengambilan sample secara acak sederhana, ialah sebuah sample yang diambil sedemikian rupa sehingga tiap unit penelitian atau satuan elemen dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sample. Metode yang digunakan dengan cara (1) undian (digoncang seperti arisan), (2) ordinal (angka kelipatan), (3)tabel bilangan random
2) Proportionate stratified random sampling, misal dengan siswa sebagai sampelnya,…maka perlu ada kalsifikasi siswa berdasar strata (misal kelas I, II dan III)
3) Disproportional stratified random sampling,..
4) Area Sampling, teknik pengambilan sample berdasar wilayah
5) Kluster sampling, teknik pengambilan sample berdasar gugus atau clusters, misal: sebuah penelitian ingin mengetahui pendapatan keluarga dalam suatu desa, dengan berbagai klaster, missal dari segi pekerjaan: Tani, Buruh, PNS, Nelayan
b. Non-Probability Sampling.
Non probability sampling terdiri dari:
1) Sampling sistematis, yaitu memilih sampel dari suatu urutan daftar menurut urutan tertentu, missal tiap individu urutan no ke-n (10, 15, 20 dst)
2) Sampling kuota, (quota sampling), teknik sampling yang didasarkan pada terpenuhinya jumlah sample yang diinginkan (ditentukan)
3) Sampling aksidental, sample yang diambil dari siapa saja yang kebetulan ada, misalnya dengan menanyai siapa saja yang ditemui dijalan…untuk meminta pendapat tentang kenaikan harga sembako
4) Purposive sampling, teknik pengambilan sample didasrkan atas tujuan tertentu. (orang yang dipilih betul-betul memiliki kriteria sebagai sampel)
5) Sampling jenuh (sensus),
6) Snowball sampling, dimulai dari kelompok kecil yang diminta untuk menunjukkan kawan masing-masing. Kemudian kawan tesrebut diminta untuk menunjukkan kawannya lagi dan seterusnya sampai secukupnya.
4. Teknik Penentuan Jumlah Sampel
Salah satu cara untuk menentukan jumlah sample adalah dengan menggunakan rumus dari Taro Yamane:
n= Jumlah sample,
N= Jumlah Populasi,
d² = Presisi yang inginkan (misal 5 % atau 10 %)
JENIS-JENIS SAMPLE
Menurut Rath & Strong’s, ada dua jenis sampel, yaitu
 Sampel judgemental yaitu sampel dipilih berdasarkan pendapat analis dan hasul penelitian digunakan untuk menarik kesimpulan tentang item-item di dalam sampel yaitu pada observasi sesungguhnya.
Sampel statistical yaitu sampel dipilih secara acak/random dari seluruh populasi dan hasil penelitiannya dapat digunakan untuk menarik kesimpulan tentang seluruh populasi.
Sumber :