Serius ini Blog yang engga penting banget, isinya cuma cerita keseharian gua dalam bentuk humor gitu. Cuma catatan-catatan biasa aja. Jadi jangan di liat, apalagi di baca, udahlah di close aja.. #greget
Senin, 05 Desember 2016
Minggu, 26 Juni 2016
Tanggapan: Film Nasional Versus Penonton
Kajian :: Penulis: Catherine Keng
Mantan importir dan pengedar film impor, A Rahim
Latif, yakin bahwa film nasional mendapatkan perlakuan yang diskriminatif dan
tidak etis dari sekelompok bioskop di Tanah Air. Benarkah terjadi perlakuan
diskriminatif tersebut? Tulisan ini merupakan paparan fakta dan analisis untuk
menanggapi artikel ”Film Nasional Versus Bioskop” (Kompas, 2 Agustus
2015, hlm 27).
”Dosa-dosa” bioskop
Rahim memulai tulisannya dengan daftar
”dosa-dosa” bioskop melalui kutipan pernyataan yang konon menurut Garin Nugroho
bahwa film nasional yang masih ada penontonnya diturunkan, sementara film impor
yang sudah tidak ada penontonnya terus diputar di bioskop. Jika yang dimaksud
Rahim ”sekelompok bioskop” itu adalah Cinema 21, penulis dapat memastikan bahwa
data dan informasi tersebut keliru.
Selama ini Cinema 21 selalu terbuka terhadap
produser film nasional. Produser dapat melihat langsung hasil perolehan
penonton pada hari-hari sebelum filmnya diturunkan. Artinya, perolehan semua
film yang main di bioskop tersebut dapat dilihat oleh produser untuk memastikan
bahwa filmnya layak diganti/diturunkan. Yang sering kali justru menjadi isu
klasik adalah produser meminta filmnya tetap dipertahankan putar di bioskop
walaupun perolehan penontonnya sudah sangat minim. Sebaiknya Rahim ataupun
Garin dapat menunjukkan secara spesifik kepada publik kasus yang dimaksud dalam
tuduhannya tersebut bilamana benar terjadi.
Pernyataan Direktur Utama Cinema 21 untuk
mendukung film nasional juga diragukan oleh Rahim berdasarkan alasan bahwa
bioskop Blok M Plaza 21 yang menurut Rahim memiliki potensi besar untuk pasar
film nasional justru sekarang digunakan untuk memutar film impor saja.
Pernyataan tersebut dapat dimaklumi mengingat keterbatasan pengetahuan dan data
yang dimiliki Rahim untuk mendasari tuduhannya.
Memang benar bahwa 10 tahun lalu bioskop Blok M
Plaza menjadi salah satu lokasi yang potensial untuk film nasional. Namun,
sejak Cinema 21 membuka bioskop Blok M Square 21 yang berlokasi di seberang
Blok M Plaza, secara alamiah penonton film nasional bergeser ke bioskop Blok M
Square yang lebih baru. Akibatnya, bioskop Blok M Plaza bukan lagi menjadi
pilihan penonton film nasional. Hal ini terbukti dari perbandingan angka
perolehan penonton setiap bioskop untuk dua film nasional terlaris saat ini,
Blok M Plaza dan Blok M Square berturut-turut merepresentasikan 0,43 persen dan
1,07 persen untuk film Comic 8; lalu 0,42 persen dan 1,15 persen untuk
Surga Yang Tak Dirindukan. Meskipun demikian, Blok M Plaza tetap
memutar film nasional, bukan film impor saja seperti tuduhan Rahim.
Rahim juga mengatakan bahwa menurunkan film impor
non major company memang gampang, tetapi tidak untuk film major
company karena ada persentase tertentu yang ditetapkan oleh sang major
company.
Faktanya, kerja sama pemutaran film milik
produser yang disebut oleh Rahim sebagai major company tidak pernah
menetapkan batas persentase tertentu. Semuanya diserahkan kepada bioskop
sebagai ekshibitor karena pada dasarnya sistem bagi hasil film akan selalu
menjamin perlakuan yang fair berdasarkan sinergi kepentingan antara
pemilik film dan ekshibitor. Secara fair, bioskop akan selalu
memberikan kesempatan putar kepada film yang diminati penonton karena minat
penonton itulah yang menjadi darah dalam industri perfilman. Masalah menjadi
berbeda ketika Rahim mengimplikasikan perlakuan fair sebagai pemihakan secara
membabi buta kepada semua film nasional.
Yang tidak diketahui Rahim adalah fakta bahwa
Cinema 21 juga melakukan seleksi atas film impor dengan menolak pemutaran
judul-judul tertentu dengan pertimbangan demi keseimbangan dan kesempatan bagi
film nasional.
Menurut Rahim, selama bulan puasa lalu bioskop
tidak memutar film nasional, padahal biasanya tiap bulan memutar 8-10 judul
film nasional di luar bulan puasa. Tampaknya perlakuan bioskop yang sangat
”tidak fair” terhadap film nasional selama bulan puasa tertangkap
tangan oleh Rahim. Rahim tidak tahu bahwa justru para produser film nasional
yang dengan sengaja menghindari rilis film di bulan puasa karena menganggap
minat menonton pada bulan tersebut sangat rendah.
Dalam tulisannya, Rahim menyatakan, saya tidak
jujur ketika mengatakan bahwa jumlah film impor yang lebih besar daripada film
nasional belum tentu berkesempatan diputar di bioskop di Indonesia. Menurut
dia, film yang tidak diputar tersebut adalah film-film kawinan (film yang
dibeli dalam bentuk paket) yang disebutnya sebagai paid but unplayed.
Namun, bukankah penjelasan tersebut justru menguatkan pernyataan saya bahwa
tidak semua film impor yang masuk mendapat kesempatan diputar di bioskop?
Sungguh suatu penilaian yang tidak jujur dari Rahim untuk saya.
Peran penonton
Telah sekian lama perfilman nasional selalu
disibukkan dengan jargon ”Memajukan Film Nasional”, ”Menjadikan Film Nasional
sebagai Tuan Rumah di Negeri Sendiri”, dan lain sebagainya. Semua jargon
disampaikan dengan permintaan dan tuntutan agar pemerintah dan segenap stakeholder
perfilman, yaitu produser, bioskop, artis, pekerja film, dan jasa teknik film,
mendukung film nasional. Masyarakat penonton sebagai darah yang menghidupi
industri perfilman sendiri tidak pernah dipandang sebagai bagian dari stakeholder
perfilman. Seakan penonton adalah masyarakat yang tidak berdaya, yang tidak
bisa memilih film yang akan ditonton sehingga stakeholder perfilman
yang akan memilih dan memutuskan untuk mereka.
Sungguh sangat menyedihkan apabila pola
pendekatan yang otoritarian tersebut tetap dipertahankan pada era keterbukaan
seperti saat ini. Kita sudah melihat bagaimana kebijakan perfilman yang diambil
selama ini, termasuk terbitnya Undang-Undang Perfilman Nomor 33 Tahun 2009,
semata-mata berorientasi hanya kepada pelaku usaha perfilman. Bagaimana
memproteksi produksi film nasional, jasa teknik dalam negeri, dan lain
sebagainya. Bahkan penurunan rata-rata penonton film nasional belakangan ini
pun ditanggapi dengan tudingan kurangnya layar bioskop dan kurangnya kesempatan
yang diberikan bioskop kepada film nasional.
Padahal, tahun 2008 ketika kebangkitan film
nasional mencapai puncaknya dengan menguasai lebih dari 55 persen pangsa
penonton secara nasional, jumlah layar bioskop masih berkisar 55 persen dari
jumlah yang ada sekarang dan kebijakan peredaran film nasional tidak berubah
sama sekali.
Jadi, apa yang membedakan kondisi pada saat itu
dengan kondisi saat ini? Jawabannya adalah ”pilihan penonton”! Dalam bahasa
politik, elektabilitas film nasional pada tahun 2008 sangat baik dan
mengalahkan elektabilitas film impor, hanya itu jawabnya. Kalau tahun-tahun
terakhir ini elektabilitas film nasional merosot tajam, siapa yang harus
disalahkan? Bioskop atau tata edar film? Apa pun yang dilakukan bioskop dan apa
pun yang diatur dalam tata edar film tak akan menggerakkan penonton ke bioskop
selama kebijakan tersebut tidak memihak kepada penonton. Dalam hal ini, posisi
Cinema 21 tegas memihak kepada masyarakat penonton karena kami ada untuk
melayani penonton.
Pertama kali dimuat di Kompas, Minggu 9
Agustus 2015, hlm 27.
Sumber:
Jumat, 29 April 2016
Softskills Bahasa Indonesia 2 # (deadline 29 April 24.00 WIB)
Nama : Ryan Nourvien Prawiranata
NPM : 18213156
Kelas : 3EA14
Mata
Kuliah : Bahasa Indonesia 2 #
Pengertian Data
Data
adalah sesuatu yang belum mempunyai arti bagi penerimanya dan masih memerlukan
adanya suatu pengolahan. Data bisa berwujud suatu keadaan, gambar, suara,
huruf, angka, matematika, bahasa ataupun simbol-simbol lainnya yang bisa kita
gunakan sebagai bahan untuk melihat lingkungan, obyek, kejadian ataupun suatu
konsep.
Cara
Pengumpulan Data
1
Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan
data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai
tujuan penelitian. Tujuan yang diungkapkan dalam bentuk hipotesis merupakan
jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian.metode pengumpulan data bisa
dilakukan dengan cara :
a. Wawancara
Menurut Prabowo (1996) wawancara adalah
metode pengmbilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang
responden, caranya adalah dengan bercakap-cakap secara tatap muka.Pada penelitian ini wawancara akan
dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara.
Menurut
Patton dalam proses wawancara dengan menggunakan pedoman umum wawancara ini,
interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum, serta mencantumkan
isu-isu yang harus diliput tampa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin
tidak terbentuk pertanyaan yangeksplisit. Pedoman wawancara digunakan untuk
mengingatkan interviewer mengenai aspek-aspek apa yang harus dibahas, juga
menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah
dibahas atau ditanyakan. Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan
bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat
Tanya, sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks actual saat wawancara
berlangsung (Patton dalam poerwandari, 1998).
b.OBSERVASI
Disamping
wawancara, penelitian ini juga melakukan metode observasi. Menurut Nawawi &
Martini (1991) observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistimatik
terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala atau gejala-gejala dalam
objek penelitian. Dalam penelitian ini observasi dibutuhkan untuk dapat
memehami proses terjadinya wawancara dan hasil wawancara dapat dipahami dalam
konteksnya. Observasi yang akan dilakukan adalah observasi terhadap subjek,
perilaku subjek selama wawancara, interaksi subjek dengan peneliti dan hal-hal
yang dianggap relevan sehingga dapat memberikan data tambahan terhadap hasil
wawancara.
Menurut
Patton (dalam Poerwandari 1998) tujuan observasi adalah mendeskripsikan setting
yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang
terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian di lihat dari perpektif mereka
yang terlihat dalam kejadian yang diamati tersebut.
MACAM-MACAM
OBSERVASI
a. Observasi
Partisipatif
Peneliti
mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang diucapkan dan
berpartisipasi dalam aktivitas yang diteliti
b.
Observasi Terus Terang atau Tersamar
Peneliti
berterus terang kepada narasumber bahwa ia sedang melakukan penelitian.
c.
Observasi tak Berstruktur
Dilakukan
dengan tidak Berstruktur karena fokus penelitian belum jelas
C.Angket atau kuesioner
(questionnaire)
Angket
atau kuesioner merupakan suatu teknik pengumpulan data secara tidak langsung
(peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden). Instrumen atau alat
pengumpulan datanya juga disebut angket berisi sejumlah pertnyaan-pertanyaan
yang harus dijawab atau direspon oleh responden. Responden mempunyai kebiasaan
untuk memberikan jawaban atau respon sesuai dengan presepsinya.
Kuesioner
merupakan metode penelitian yang harus dijawab responden untuk menyatakan
pandangannya terhadap suatu persoalan. Sebaiknya pertanyaan dibuat dengan
bahasa sederhana yang mudah dimengerti dan kalimat-kalimat pendek dengan maksud
yang jelas. Penggunaan kuesioner sebagai metode pengumpulan data terdapat beberapa
keuntungan, diantaranya adalah pertanyaan yang akan diajukan pada responden
dapat distandarkan, responden dapat menjawab kuesioner pada waktu luangnya,
pertanyaan yang diajukan dapat dipikirkan terlebih dahulu sehingga jawabannya
dapat dipercaya dibandingkan dengan jawaban secara lisan, serta pertanyaan yang
diajukan akan lebih tepat dan seragam.
MACAM-MACAM
KUISIONER
1.
Kuesioner
tertutup
Setiap
pertanyaan telah disertai sejumlah pilihan jawaban. Responden hanya memilih
jawaban yang paling sesuai.
2. Kuesioner
terbuka
Dimana tidak terdapat pilihan jawaban
sehingga responden haru memformulasikan jawabannya sendiri.
3. Kuesioner
kombinasi terbuka dan tertutup
Dimana pertanyaan tertutup kemudian disusul
dengan pertanyaan terbuka.
4. Kuesioner semi
terbuka
Pertanyaan yang jawabannya telah tersusun
rapi, tetapi masih ada kemungkinan tambahan jawaban.
JENIS-JENIS
DATA
Jenis
Data Menurut Cara Memperolehnya :
- Data Primer
Data
primer adalah secara langsung diambil dari objek / obyek penelitian oleh
peneliti perorangan maupun organisasi. Contoh : Mewawancarai langsung penonton
bioskop 21 untuk meneliti preferensi konsumen bioskop.
- Data
Sekunder
Data
sekunder adalah data yang didapat tidak secara langsung dari objek penelitian.
Peneliti mendapatkan data yang sudah jadi yang dikumpulkan oleh pihak lain
dengan berbagai cara atau metode baik secara komersial maupun non komersial.
Contohnya adalah pada peneliti yang menggunakan data statistik hasil riset dari
surat kabar atau majalah.
Macam-Macam
Data Berdasarkan Sumber Data :
Data
Internal Data internal adalah data yang menggambarkan situasi dan kondisi pada
suatu organisasi secara internal. Misal : data keuangan, data pegawai, data
produksi, dsb.
- Data
Eksternal
Data
eksternal adalah data yang menggambarkan situasi serta kondisi yang ada di luar
organisasi. Contohnya adalah data jumlah penggunaan suatu produk pada konsumen,
tingkat preferensi pelanggan, persebaran penduduk, dan lain sebagainya.
( Jenis-jenis Data Menurut Waktu
Pengumpulannya ) :
- Data
Cross Section
Data
cross-section adalah data yang menunjukkan titik waktu tertentu. Contohnya
laporan keuangan per 31 desember 2006, data pelanggan PT. Angin Ribut bulan mei
2004, dan lain sebagainya.
- Data
Time Series / Berkala
Data
berkala adalah data yang datanya menggambarkan sesuatu dari waktu ke waktu atau
periode secara historis. Contoh data time series adalah data perkembangan nilai
tukar dollar amerika terhadap euro eropa dari tahun 2004 sampai 2006, jumlah
pengikut jamaah nurdin m. top dan doktor azahari dari bulan ke bulan, dll.
( Data dengan Variabel bebas dan variabel
terikat ) :
Variabel
bebas adalah data unit atau ukuran yang diubah dalam suatu pengamatan. Dalam
hubungan sebab-akibat, variable terikat berperan sebagai sebab sementara
variable bebas adalah akibat.
Data
dengan variabel terikat adalah data unit atau ukuran yang berubah sesuai dengan
berubahnya variable lain. Variabel terikat menjadi hal yang diperhatikan dalam
suatu pengamatan.
- Data
Berkala
Data
berkala adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu untuk menggambarkan
suatu perkembangan atau kecenderungan keadaan/peristiwa/kegiatan. Biasanya
jarak dari waktu ke waktu sama. Data berkala disebut juga time series data.
Dengan analisis data berkala kita dapat mengetahui perkembangan satu atau
beberapa keadaan serta hubungan atau pengaruhnya terhadap keadaan lain.
PENGERTIAN SAMPLE
Sampel
adalah bagian dari populasi yang diharapkan mampu mewakili populasi dalam
penelitian
SYARAT
SAMPLE YANG BAIK
Dalam
penyusunan sampel perlu disusun kerangka sampling yaitu daftar dari semua unsur
sampling dalam populasi sampling, dengan syarat:
a.
Harus meliputi seluruh unsur sampel
b.
Tidak ada unsur sampel yang dihitung dua kali
c.
Harus up to date
d.
Batas-batasnya harus jelas
e.
Harus dapat dilacak dilapangan
Menurut
Teken (dalam Masri Singarimbun dan Sofyan Efendi) Ciri-ciri sample yang ideal
adalah:
a.
dapat menghasilkan gambaran yang dipercaya dari seluruh populasi yang diteliti
b.
Dapat menentukan presisi (precision) dari hasil penelitian dengan menentukan
penyimpangan baku (standar) dari taksiran yang diperoleh
c.
Sederhana, sehingga mudah dilaksanakan
d.
Dapat memberikan keterangan sebanyak mungkin dengan biaya yang rendah
CARA
/ TEKNIK PENGUMPULAN SAMPLE
Ada
beberapa teknik dalam pengambilan sampel, namun secara garis besar dapat dibagi
menjadi dua:
a.
Probability Sampling atau Random Sampling
1)
Simple random sampling, pengambilan sample secara acak sederhana, ialah sebuah
sample yang diambil sedemikian rupa sehingga tiap unit penelitian atau satuan
elemen dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi
sample. Metode yang digunakan dengan cara (1) undian (digoncang seperti
arisan), (2) ordinal (angka kelipatan), (3)tabel bilangan random
2)
Proportionate stratified random sampling, misal dengan siswa sebagai
sampelnya,…maka perlu ada kalsifikasi siswa berdasar strata (misal kelas I, II
dan III)
3)
Disproportional stratified random sampling,..
4)
Area Sampling, teknik pengambilan sample berdasar wilayah
5)
Kluster sampling, teknik pengambilan sample berdasar gugus atau clusters,
misal: sebuah penelitian ingin mengetahui pendapatan keluarga dalam suatu desa,
dengan berbagai klaster, missal dari segi pekerjaan: Tani, Buruh, PNS, Nelayan
b.
Non-Probability Sampling.
Non
probability sampling terdiri dari:
1)
Sampling sistematis, yaitu memilih sampel dari suatu urutan daftar menurut
urutan tertentu, missal tiap individu urutan no ke-n (10, 15, 20 dst)
2)
Sampling kuota, (quota sampling), teknik sampling yang didasarkan pada
terpenuhinya jumlah sample yang diinginkan (ditentukan)
3)
Sampling aksidental, sample yang diambil dari siapa saja yang kebetulan ada,
misalnya dengan menanyai siapa saja yang ditemui dijalan…untuk meminta pendapat
tentang kenaikan harga sembako
4)
Purposive sampling, teknik pengambilan sample didasrkan atas tujuan tertentu.
(orang yang dipilih betul-betul memiliki kriteria sebagai sampel)
5)
Sampling jenuh (sensus),
6)
Snowball sampling, dimulai dari kelompok kecil yang diminta untuk menunjukkan
kawan masing-masing. Kemudian kawan tesrebut diminta untuk menunjukkan kawannya
lagi dan seterusnya sampai secukupnya.
4.
Teknik Penentuan Jumlah Sampel
Salah
satu cara untuk menentukan jumlah sample adalah dengan menggunakan rumus dari
Taro Yamane:
n=
Jumlah sample,
N=
Jumlah Populasi,
d²
= Presisi yang inginkan (misal 5 % atau 10 %)
JENIS-JENIS
SAMPLE
Menurut
Rath & Strong’s, ada dua jenis sampel, yaitu
Sampel judgemental yaitu sampel dipilih
berdasarkan pendapat analis dan hasul penelitian digunakan untuk menarik
kesimpulan tentang item-item di dalam sampel yaitu pada observasi sesungguhnya.
Sampel
statistical yaitu sampel dipilih secara acak/random dari seluruh populasi dan
hasil penelitiannya dapat digunakan untuk menarik kesimpulan tentang seluruh
populasi.
Sumber :
Senin, 18 April 2016
Softskills Bahasa Indonesia 2 # (deadline 22 April 24.00 WIB)
Nama : Ryan Nourvien Prawiranata
NPM : 18213156
Kelas : 3EA14
Mata
Kuliah : Bahasa Indonesia 2 #
Pengertian
Hipotesis
Penelitian Menurut Sugiyono (2009:
96), hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian,
di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk pertanyaan.
Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori.
Hipotesis dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang merupakan jawaban sementara
atas masalah yang dirumuskan.
Penelitian yang merumuskan hipotesis
adalah penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Pada penelitian
kualitatif hipotesis tidak dirumuskan, tetapi justru diharapkan dapat ditemukan
hipotesis. Selanjutnya hipotesis tersebut akan diuji dengan pendekatan
kuantitatif.
Berikut ini beberapa penjelasan mengenai Hipotesis
yang baik :
·
Hipotesis harus menduga Hubungan diantara beberapa
variabel
Hipotesis
harus dapat menduga hubungan antara dua variabel atau lebih, disini harus
dianalisis variabel-variabel yang dianggap turut mempengaruhi gejala-gejala
tertentu dan kemudian diselidiki sampai dimana perubahan dalam variabel yang
satu membawa perubahan pada variabel yang lain.
·
Hipotesis harus Dapat Diuji
Hipotesis
harus dapat di uji untuk dapat menerima atau menolaknya, hal ini dapat
dilakukan dengan mengumpulkan data-data empiris.
·
Hipotesis harus konsisten dengan keberadaan ilmu
pengetahuan-
Hipotesis tidak bertentangan dengan
pengetahuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam beberapa masalah, dan
terkhusus pada permulaan penelitian, ini harus berhati-hati untuk mengusulkan
hipotesis yang sependapat dengan ilmu pengetahuan yang sudah siap ditetapkan
sebagai dasar. Serta poin ini harus sesuai dengan yang dibutuhkan untuk
memeriksa literatur dengan tepat oleh karena itu suatu hipotesis harus
dirumuskan bedasar dari laporan penelitian sebelumnya.
·
Hipotesis Dinyatakan Secara Sederhana
Suatu hipotesis akan dipresentasikan
kedalam rumusan yang berbentuk kalimat deklaratif, hipotesis dinyatakan secara
singkat dan sempurna dalam menyelesaikan apa yang dibutuhkan peneliti untuk
membuktikan hipotesis tersebut.
Jenis-Jenis
Hipotesis
1. Hipotesis
dilihat dari kategori rumusannya
Dibagi menjadi dua bagian yaitu (1)
hipotesis nihil yang biasa disingkat dengan Ho (2) hipotesis alternatif
biasanya disebut hipotesis kerja atau disingkat Ha.
·
Hipotesis nihil (Ho) yaitu hipotesis yang menyatakan
tidak ada hubungannya atau pengaruh antara variabel dengan variabel lain.
Contohnya: Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan
prestasi belajar siswa SD.
·
Hipotesis alternatif (Ha) adalah hipotesis yang
menyatakan adanya hubungan atau pengaruh antara variabel dengan variabel lain.
Contohnya: Ada hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi
belajar siswa SD. Hipotesis alternatif ada dua macam, yaitu directional
Hypotheses dan non directional Hypotheses (Fraenkel and Wallen, 1990:42 ;
Suharsimi Arikunto, 1989:57).
·
Hipotesis terarah adalah hipotesis yang diajukan oleh
peneliti, dimana peneliti sudah merumuskan dengan tegas yang menyatakan bahwa
variabel independen memang sudah diprediksi berpengaruh terhadap variabel
dependen. Misalnya: Siswa yang diajar dengan metode inkuiri lebih tinggi
prestasi belajarnya, dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan menggunakan
metode curah pendapat.
·
Hipotesis tak terarah adalah hipotesis yang diajukan
dan dirumuskan oleh peneliti tampak belum tegas bahwa variabel independen berpengaruh
terhadap variabel dependen. Fraenkel dan Wallen (1990:42) menyatakan bahwa
hipotesis tak terarah itu menggambarkan bahwa peneliti tidak menyusun prediksi
secara spesifik tentang arah hasil penelitian yang akan dilakukan. Contoh: Ada
perbedaan pengaruh penggunaan metode mengajar inkuiri dan curah pendapat
terhadap prestasi belajar siswa.
2. Hipotesis
dilihat dari sifat variabel yang akan diuji.
Dilihat dari sifat yang akan diuji,
hipotesis penelitian dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu (1) hipotesis
tentang hubungan dan (2) hipotesis tentang perbedaan.
Hipotesis tentang hubungan yaitu
hipotesis yang menyatakan tentang saling hubungan antara dua variabel atau
lebih, mengacu ke penelitian korelasional.
Hubungan antara variabel tersebut
dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: (a) hubungan yang sifatnya sejajar tidak
timbal balik, (b) hubungan yang sifatnya sejajar timbal balik, (c) hubungan
yang menunjuk pada sebab akibat tetapi timbal balik.
·
Hubungan yang sifatnya sejajar tidak timbal balik,
contohnya: Hubungan antara kemampuan fisika dengan kimia. Nilai fisika
mempunyai hubungan sejajar dengan nilai kimia, tetapi tidak merupakan sebab
akibat dan timbal balik. Nilai fisika yang tinggi tidak menyebabkan nilai kimia
yang tinggi, dan sebaliknya. Keduanya memiliki hubungan mungkin disebabkan
karena faktor lain, mungkin kebiasaan berpikir logik (tentang ke IPA-an)
sehingga mengakibatkan adanya hubungan antara keduanya.
·
Hubungan yang sifatnya sejajar timbal balik.
Contohnya: Hubungan antara tingkat kekayaan dengan kelancaran berusaha. Semakin
tinggi tingkat kekayaan, semakin tinggi tingkat kelancaran usahanya, dan
sebaliknya.
·
Hubungan yang menunjuk pada sebab-akibat, tetapi tidak
timbal balik. Contohnya hubungan antara waktu PBM, dengan kejenuhan siswa.
Semakin lama waktu PBM berlangsung, siswa semakin jenuh terhadap pelajaran yang
disampaikan.
·
Sedangkan hipotesis tentang perbedaan, yaitu hipotesis
yang menyatakan perbedaan dalam variabel tertentu pada kelompok yang berbeda.
Hipotesis tentang perbedaan ini mendasari berbagai penelitian komparatif dan
eksperimen. Contoh (1): Ada perbedaan pretasi belajar siswa SMA antara yang
diajar dengan metode ceramah + tanya jawab (CT) dan metode diskusi (penelitian
eksperimen). Contoh (2): Ada perbedaan prestasi belajar siswa SMA antara yang
berada di kota dan di desa (penelitian komparatif).
3. Jenis
Hipotesis yang dilihat dari keluasan atau lingkup variabel yang diuji.
Ditinjau dari keluasan dan lingkupnya, hipotesis dapat dibedakan menjadi
hipotesis mayor dan hipotesis minor. Hipotesis mayor adalah hipotesis yang
mencakup kaitan seluruh variabel dan seluruh objek penelitian, sedangkan
hipotesis minor adalah hipotesis yang terdiri dari bagian-bagian atau sub-sub
dari hipotesis mayor (jabaran dari hipotesis mayor).
·
Contoh: Hipotesis Mayor
“Ada hubungan antara keadaan sosial ekonomi
(KSE) orang tua dengan prestasi belajar siswa SMP”.
·
Contoh: Hipotesis Minor.
1)
Ada hubungan antara tingkat pendidikan orang tua
dengan prestasi belajar siswa SMP.
2)
Ada hubungan antara pendapatan orang tua dengan
prestasi belajar siswa SMP.
3)
Ada hubungan antara kekayaan orang tua dengan prestasi
belajar siswa SMP.
Manfaat
Hipotesis
Penetapan hipotesis dalam sebuah penelitian memberikan
manfaat sebagai berikut:
·
Memberikan batasan dan memperkecil jangkauan
penelitian dan kerja penelitian.
·
Mensiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan
antar fakta, yang kadangkala hilang begitu saja dari perhatian peneliti.
·
Sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta
yang bercerai-berai tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting dan
menyeluruh.
·
Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian
dengan fakta dan antar fakta.
Sumber:
Langganan:
Postingan (Atom)